Yak, akhir-akhir ini di situs jejaring sosial, khususnya Twitter yang saya amati, sedang kisruh tentang akan diblokirnya layanan Blackberry® dari RIM® (Research in Motion) as per 17/1/2011 berdasarkan keterangan “Menporninfo” (baca : Menkominfo) -via detik.com. Di balik itu, ada pro dan kontra dalam menanggapi pernyataan Pak Tif (begitu Netizen biasa memanggilnya).
Okay, straight to the point. Saya tidak tahu apa alasan orang-orang yang pro terhadap pernyataan itu selain alasan (mungkin) “stereotipe” menyelamatkan moral bangsa. Akan tetapi, ada yang lebih “lucu” lagi di balik mengapa orang-orang memilih kontra terhadap pernyataan tersebut. Pertama, IMHO (in my humble opinion), pernyataan Pak Tif kurang berdasar mengenai pemblokiran layanan RIM® dalam hal mengakses situs pornografi. Apa pasal? Karena beliau tidak ditunjang dengan data statistic yang mengungkapkan berapa banyak pengguna Blackberry® yang mengakses situs porno dari handset tersebut. Tidakkah beliau memperhitungkan banyaknya benefit yang diperoleh dari penggunaan Blackberry®? Misalnya dari segi ekonomi, efektifitas dan efisiensi dalam berkomunikasi, industry kreatif, kemanusiaan, dan lain sebagainya. Pertanyaannya, benarkah alasan pemberantasan pornografi menjadi hal yang tendensius terhadap upaya pemblokiran layanan Blackberry® tersebut? Mengapa hanya Blackberry®/RIM®?
Kedua, jika alasan RIM® yang bebal terhadap kebijakan pemerintah, mari kita lihat beberapa tweet-nya @DanielTumiwa berikut ini.
Saya termasuk yang lebih condong kepada kontra. Bukan berarti tidak mendukung pemberantasan pornografi atau di lain pihak memenangkan para pengguna Blackberry® (terlepas dari yang sering atau setidaknya pernah memanfaatkannya untuk mengakses pornografi). Pak Tif, dalam hal ini Kemenporninfo (baca : Kemenkominfo) sepertinya terlalu kekanak-kanakkan dan terburu-buru, serta terkesan ingin menempuh cara instan tanpa memperdulikan plus minus-nya dengan bijak. Ada banyak hal yang lebih fundamental dan lebih praktis dalam mengatasi pornografi (jika ini yang jadi alasan prioritas terhadap pemblokiran layanan Blackberry®), misalnya melalui edukasi (dalam arti yang luas) kepada user, atau dengan metoda-metoda praktis secara teknik informatika (baca page berikut ini – via internetsehat.org).
Hal-hal yang telah dijelaskan sebelumnya, juga banyak lagi yang telah diungkapkan para user Blackberry® melalui situs jejaring sosial dalam mengkonfrontasi pernyataan (dan segera menjadi keputusan) Pak Tif telah menjadikan pernyataan tersebut lebih terlihat mentah dan tak mendasar berdasarkan suatu analisis yang menyeluruh. Sikap Pak Tif atau dalam hal ini Kemenkominfo secara institusi terkesan terlalu memaksakan kebijakannya dan menunjukkan bahwa mereka tidak punya kekuatan (kemampuan) negosiasi yang baik dalam menemukan solusi yang bijak. Indonesia punya daya tawar yang cukup bagus jika dilihat dari sisi jumlah pengguna aktual dan pasar potensial, dan saya yakin RIM® tidak ingin kehilangan asset ini.
Saya memang hanya bisa mengkritik dan belum bisa memberikan solusi praktis, akan tetapi ini adalah selemah-lemahnya iman.
(nuhun Kang Gilang Pramudya “anda mmng layak dibajak” gkgkgkgk)












